My sponsors

Saturday, February 25, 2012

Meretas Jalan Kebaikan

Kebaikan adalah apa saja yang dipandang baik oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Keburukan adalah apa saja yang dianggap buruk oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, bagi seorang Muslim, standar baik-buruk adalah syariah Islam. Karena itu, dalam Islam: iman itu baik, kufur itu buruk; taat itu baik, maksiat itu buruk; adil itu baik, fasik/zalim itu buruk; beramal shalih itu baik, beramal salah itu buruk; pemurah itu baik, kikir itu buruk; pemaaf itu baik, pendendam itu buruk; pejuang syariah dan Khilafah itu baik, penentangnya itu buruk; jihad itu baik, terorisme itu buruk. Demikian seterusnya. Tentu jika semua itu tolok-ukurnya adalah syariah Islam.

Dalam Islam, baik pelaku kebaikan ataupun keburukan tentu akan mendapatkan konsekuensi pahala atau dosa. Pelaku kebaikan akan mendapatkan pahala dan surga. Pelaku keburukan akan mendapatkan dosa dan azab neraka. Namun sesungguhnya konsekuensi bagi keduanya bisa lebih dari itu, yakni saat masing-masing menjadi ‘teladan’ atau ‘ikutan’ bagi orang lain. Seorang pelaku kebaikan akan mendapatkan dua pahala: pahala atas perbuatan baik yang ia lakukan dan pahala dari orang yang meneladani atau mengikuti jejak kebaikannya. Demikian pula pelaku keburukan. Ia pun akan mendapatkan dua dosa: dosa atas perbuatan buruk yang ia lakukan dan dosa dari orang yang ‘meneladani’ atau mengikuti jejak keburukannya. Itulah yang ditegaskan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sabda beliau, sebagaimana dituturkan oleh Jarir bin Abdillah (yang artinya), “Siapa saja yang meretas jalan kebaikan (sunnat[an] hasanat[an]) di dalam Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang meretas jalan keburukan (sunnat[an] sayyi’at[an]) di dalam Islam, baginya dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak keburukannya itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).
Maknanya, siapapun yang mempropagandakan kebaikan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan, lalu kebaikan itu dilakukan oleh orang lain maka bagi dirinya dua pahala, sebagaimana dijelaskan di atas. Demikian pula hal sebaliknya (baca: dosa) bagi orang yang mempropagandakan keburukan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan (Lihat: Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/330).
Hadits Nabi SAW yang lain, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, juga mengungkapkan maksud serupa, yakni saat beliau bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang menunjukkan jalan kesesatan, bagi dirinya dosa yang serupa dengan dosa orang-orang yang mengikuti kesesatan itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).
Khusus terkait dengan kebaikan, Baginda Rasulullah juga bersabda (yang artinya), “Demi Allah, hidayah Allah yang diberikan kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik bagi kamu daripada seekor unta merah.” (Mutaffaq ‘alaih).
Unta merah adalah harta yang paling dibanggakan bangsa Arab saat itu; tidak ada yang lebih berharga dari itu (Muhammad ‘Allan, I/336).
Baginda Rasulullah SAW juga bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukki orang lain pada kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan orang yang melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim).
Oleh sebagian ulama, hadits-hadits ini dijadikan dalil atas keutamaan berdakwah atau menyampaikan hidayah Islam kepada manusia. Hadits ini juga menunjukkan arti pentingnya mengamalkan atau menyebarluaskan ilmu. Bahkan ilmu yang diamalkan atau disebarluaskan merupakan salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya meski ia telah wafat. Hal ini sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW (yang artinya), “Saat anak Adam meninggal, terputus segala (pahala) amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakan dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Walhasil, marilah kita berlomba-lomba meretas jalan kebaikan dengan dua cara. Pertama: dengan menyebarluaskan ilmu-ilmu Islam yang kita miliki meski ilmu yang kita miliki baru sedikit. Kedua: dengan berdakwah menyebarluaskan hidayah Islam kepada manusia. Dakwah adalah aktivitas mulia karena merupakan aktivitas para nabi dan rasul Allah SWT. Hanya dengan dakwahlah umat manusia bisa tertunjukki pada hidayah-Nya; pada akidah dan syariah-Nya. Karena itu, marilah kita mendakwahkan Islam walau dengan menyampaikan hanya satu-dua ayat atau satu-dua hadits. Sebab, Baginda Nabi SAW pernah bersabda (yang artinya), “Sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat!” (HR al-Bukhari dan Muslim).

[+/-] Selengkapnya...

Hijrah Menuju Kebaikan “The Obvious of Story”

Kisah ini adalah perjalanan hidup temanku (maaf, penulis menghidden nama ini dengan alasan tertentu), dia berasal dari Kota Tanggerang, terlahir dari keluarga biasa dan tinggal disebuah daerah metropolis, tepatnya di sebuah perumahan (penuilis lupa nama perumahan tersebut) yang kurang menguntungkan untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Kisah ini –menurutku– penuh kesan dan arti dibalik perjalanan hidupnya. Sederhana ceritanya, tapi ada beberapa hal yang membuatku tergugah, disamping cerita ini adalah kisah nyata, juga cerita ini memiliki kemiripin skenario yang pernah aku lalui dalam lembaran hidupku ini. Berikut ini kisahnya…

Aku (temanku maksudnya) yang tak pernah menoleh untuk pergi dari lembah kegelapan bergelut dalam kemaksiatan, wajah hitam buram karena seringnya tak terkena siraman air wudhu.

Aku merasa akan hidup seperti ini selamanya, menghabiskan waktu dengan bermain dan bersenda gurau, kulewati masa remaja ini dengan penuh catatan-catatan hitam. Tapi (menurutku saat itu) memang inilah jiwa seseorang yang sedang beranjak dewasa, selalu ingin mencari tahu dan mencoba hal baru (padahal hal baru tersebut belum tentu baik bagi manusia). Tapi amat disayangkan, aku tak mampu mengontrol diri, sehingga aku dengan mudah mengikuti arus kemaksiatan.

Aku sudah lulus dari SMP dan atas perintah orang tuaku, aku diminta untuk melanjutkan ke Pesantren. Apa… “Pesantren”, nama ini pernah aku dengar dari cerita-cerita orang saja, tapi tetap saja masih begitu asing ditelingaku ini. Aku sempat menolak bahkan sempat berkata kasar terhadap orang tuaku, “Pesantren… ‘ngapain hidup di Pesantren, udah ’ga zaman”, begitu jawabanku kepada orang tua. Apalagi, aku juga tak maupisah dengan teman-tamanku yang royal denganku ini. Tapi, sebagai anak… akhirnya sifat kerasku ini luluh juga.

Saat aku diterima di Pesantrean itu (Nama Pesantren tersebut adalah Attaqwa), Aku duduk di kelas satu Aliyah (setingkat dengan 1 SMA), di sebuah Pesantren yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Di Pesantren ini, aku menemukan sebuah komunitas baru yaitu kumpulan para “Santri”. Sebelum masuk Pesantren, aku tidak mengerti banyak tentang agama, karena sebelumnya aku disekolahkan dengan latar belakang umum dan sangat sedikit sekali materi pelajaran tentang keagamaan yang diajarkan disekolah itu. Belum lagi, pergaulanku dengan teman-teman yang kurang menjaga diri, berpakaian saja tidak mencerminkan akhlak, apalagi dalam bersosialisasi dengan masyarakat sudah jauh dari norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Aku mencoba untuk bisa beradaptasi dengan komunitas baru ini, awalnya sempat canggung dan bahkan batin ini ingin berontak, namun perlahan-lahan akupun mulai menyukai suasana baru ini.

Orang tuaku sangat faham dengan karakteristik yang ada dalam diriku, mereka tahu aku ini anak yang susah di atur dan jarang sekali mendengar nasehat dan perintahnya. Sekali lagi ini adalah faktor pergaulan, sehingga kepribadianku pun ikut terpengaruh dan hampir saja aku terjerumus kedalam pergaulan kotor.

Harapan orang tuaku agar aku hidup dengan nuansa akhlak mulia dan berbakti kepada orangtua. Apalagi, aku adalah anak tertua dari tiga bersaudara dan akulah harapan orang tuaku kelak yang akan mengemban tanggung jawab keluarga lebih besar dibanding adik-adikku. Lepas dari itu semua, aku merupakan contoh teladan buat adik-adikku.

Dua hal itulah yang sering terpikir dalam kepalaku. Sehingga akupun akhirnya harus belajar memahami kembali posisiku dikeluarga, semangat belajar dan memahami ilmu agama mulai muncul seiring berkembangnya usiaku di Pesantren, aku tidak ingin lagi mengingat masa laluku yang suram, aku harus berpikir dewasa demi masa depan keluarga.

Perjalanan hidupku masih panjang, tantangan dan cobaan adalah bagian dari perjuangan. Kusapu semua keraguan yang datang di sela-sela belajarku, karna aku tahu, aku lebih dibutuhkan untuk membangun keluarga sebagai anak yang paling dewasa. Pergaulan yang membuatku terpuruk dan yang semakin mengikat erat sudah lama kutinggalkan, disinilah cahaya Allah bermain menyinari di setiap langkahku, mengiringi perjuanganku melawan hawa nafsu yang terkadang mengelabuhi pandangan batinku.

Aku adalah aku, bukanlah seperti aku yang dulu yang mudah terbawa arus ketika tak tahu harus kemana langkah ini di tegakkan. Sekarang aku punya pendirian, masa depan adalah tujuan. Kembalikan masalah kepada Allah, berusaha, berdoa dan bersabar adalah kunci, belajar dari pengalaman itu yang terbaik.


Hikmah Cerita


1. Percayalah… seburuk apapun hidup kita, jangan pernah ada kata “Menyerah” dan akhirnya pasrah. Berusahalah meraih kebaikan tersebut, Innallaha Ma’aana “Sesungguhnya Allah selalu bersama kita”.

2. Ada sebagian masyarakat yang memiliki paradigma bahwa hidup di Pesantrean bagaikan di penjara, kuno, dah ‘ga zaman dan juga susah dapat pekerjaan ketika lulus nanti. Paradigma tersebut adalah “Salah Besar” , dari cerita diatas dan penulis pikir andapun akan sepakat. Jika Pondok Pesantren merupakan solusi tepat untuk pembinaan anak bangsa, khususnya yang beragama Islam.

3. Hormati orang tua, meskipun –terkadang– kita berbeda pendapat, bahkan ideologi. Tetap keharmonisan keluarga harus tetap ditumbuhkan, meskipun pendapat kita –barangkali– benar, terlebih lagi pendapat kita yang salah.

4. Lingkungan kondusif ternyata sangat memiliki efek yang kuat terhadap pembinaan karakter, bukan hanya di Pesantren saja, Pesantren hanyalah merupakan contoh kecil. Kitapun disini (baca; anggota IKPMA) dituntut untuk mencari lingkungan kondusif tersebut, seperti tinggal di rumah dengan teman-teman yang memiliki orientasi hidup yang jelas dan punya target, ataupun kita aktif di organisasi, semisal IKPMA, guna mengasah skill berfikir dan melatih kepekaan sosial.¤

[+/-] Selengkapnya...

Monday, October 10, 2011

Kebahagiaan sejati ada di dalam hati

Saya baru saja menyaksikan sebuah tayangan di televisi. Lagi-lagi saya terhenyak. Ternyata begitu sulit menemukan sebuah kondisi hati yang disebut bahagia. Kata sederhana yang sarat makna.

Segala limpahan materi, ketenaran, karier yang bersinar, keindahan fisik, keutuhan keluarga, teman setia, sahabat sejati bahkan pengagum yang berjuta, tidak pernah bisa menimbulkan rasa bahagia sejati. Rasa bahagia yang langgeng dan terus menerus.

Bila kita pandai mengendalikan hati kita agar selalu ada pada kondisi nyaman, tenang, teduh dan selalu bersyukur atas semua berkah yang sudah diterima, maka rasa bahagia bisa datang menghampiri.

Rasa bahagia itu akan menetap, bila kondisi hati senantiasa berada pada posisi stabil. Tidak pernah terburu-buru karena hal-hal yang seharusnya dengan sabar kita lalui. Tidak panik melihat keberhasilan orang lain. Atau tidak cemas melihat orang-orang sudah berada jauh di depan kita.

Kebahagiaan bukan makanan atau minuman instan. Bukan pula suplemen yang bisa dirasakan langsung khasiatnya. Kebahagiaan adalah proses menjaga hati agar bisa menerima semua kondisi dengan sewajarnya.

Bila kita sudah bisa meyakini, bahwa setiap perbuatan ada ‘hadiahnya’, maka buat apa kita mencoba melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas kita lalukan. Bukankah perbuatan tidak pantas itu akan menuai ‘hadiah’ juga?

‘Hadiah’ dari perbuatan tidak terpuji itu biasanya berupa ketidakpuasan, penyesalan atau ketidakbahagiaan.

Kebahagiaan berada seiring dengan kebaikan. Dengan ketulusan. Dengan rasa syukur terhadap semua karunia dari Sang Pencipta.

Kebahagiaan hanya datang pada hati yang jernih menatap hidup. Hati yang bening menjalani semua ujian dan cobaan. Hati yang memang pantas untuk dihampiri oleh sebuah kebahagiaan.

Kebahagiaan sejati sesungguhnya berada di dalam hati.

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, October 1, 2011

Rencana Tuhan

(diambil dari kisah kick andy)
“Maaf salah sambung”. SMS itu masuk beberapa saat setelah saya mengirim SMS untuk seorang teman. Jawaban yang saya terima dari teman itu membuat saya bertanya-tanya. Mengapa teman saya mengatakan salah sambung?

Merasa tidak enak, saya mengirim SMS lagi untuk menyatakan permintaan maaf. Lalu saya cantumkan nama saya di akhir SMS dengan harapan jika itu benar nomor telepon teman saya, maka dia akan menyadari yang mengirim SMS tadi itu saya. Tak lama kemudian handphone saya berdering. Di layar muncul nomor teman saya. “Maaf Pak Andy, nama saya Wahidin. Saya bekerja di Imigrasi,” ujar suara di seberang sana. Ternyata nomor tersebut memang bukan nomor telepon teman saya. Setelah sedikit berbasa-basi saya meminta maaf lalu menutup pembicaraan.

Tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Saya hanya heran mengapa bisa salah mencatat nomor telepon teman. Tapi sebulan kemudian saya mendapat SMS dari Pak Wahidin. Setelah mengingatkan bahwa SMS saya pernah nyasar ke handphone-nya, dia kemudian menginformasikan di sebuah desa di Subang ada seorang anak, usianya 9 tahun, yang selama ini menanggung derita karena mengalami kelainan di tubuhnya. Anak itu tidak punya anus. Kalau buang air besar melalui kemaluannya. “Mungkin Pak Andy bisa membantu,” tulis Pak Wahidin sembari menyertakan nama, alamat, dan nomor kontak anak tersebut.

Saya bilang saya tidak berjanji, tetapi akan berusaha mencari orang yang bisa membantu anak tersebut. Setelah itu, saya mengirim kisah anak tersebut via SMS ke seorang pimpinan sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Esoknya saya mendapat jawaban, “Pak Andy, saya masih di Italia. Bisakah saya dapatkan data lebih lengkap dari anak itu? Sesampai di Jakarta akan saya diskusikan dengan tim dokter.”

Dua minggu kemudian, tim Kick Andy sudah menjemput anak tersebut dan membawanya ke Jakarta. Pihak rumah sakit setuju untuk melakukan operasi. Untuk tahap pertama, akan dibuatkan “lubang pembuangan” di perut. Setelah itu baru dibuatkan anus untuk pembuangan permanen.

Tiga hari kemudian, saya menerima SMS dari pimpinan rumah sakit tersebut. “Alhamdulilah operasi berjalan baik. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana”. Sejenak saya terhenyak membaca SMS tersebut. Ada rasa haru yang memenuhi relung hati. “Tuhan, terima kasih,” gumam saya dalam hati. Sungguh saya tidak menyangka semua berjalan begitu cepat dan lancar. Bahkan pihak rumah sakit memperlakukan Ani sangat istimewa. Semua kebutuhan Ani dan ayahnya selama di Jakarta semuanya ditanggung rumah sakit.

Malamnya saya merenung. Ah, kalau dipikir seringkali rencana Tuhan sulit dipahami akal manusia. Termasuk sulit bagi saya memahami mengapa saya salah mencatat nomor handphone teman saya. Sulit memahami mengapa Pak Wahidin yang saya kenal gara-gara salah sambung menginformaskan kondisi seorang anak nun jauh di sebuah desa
kecil di Subang yang membutuhkan pertolongan. Juga sulit dipahami oleh akal manusia respon rumah sakit yang bersedia melakukan operasi gratis. Padahal, operasi semacam itu tentu membutuhkan biaya yang besar. Pimpinan rumah sakit itupun baru saya kenal dan kami baru sekali bertemu.

Akal manusia memang tidak akan pernah mampu mencerna rencana Tuhan. Rencana Tuhan hanya mampu dicerna melalui iman. Karena itu saya meyakini semua yang terjadi itu bukan sesuatu yang kebetulan. Sejak saya salah mencatat nomor telepon teman, sebenarnya Tuhan sudah “mengatur” untuk mempertemukan saya dengan Ani. Kemudian melalui SMS “nyasar”, Tuhan menghubungkan saya dengan Pak Wahidin. Melalui Pak Wahidin Tuhan memberi tahu ada seorang anak di Subang yang membutuhkan bantuan. Kemudian Tuhan “memerintahkan” saya untuk menghubungi pimpinan rumah sakit tersebut. Lalu semuanya berakhir dengan operasi oleh tim dokter terhadap Ani.

Sejak awal, Tuhan sudah mengatur semuanya untuk Ani. Pak Wahidin, pimpinan rumah sakit, dokter-dokter yang mengoperasi, dan semua pihak yang ikut membantu -- termasuk saya -- hanya mendapat “tugas” untuk menolong Ani. Setelah memahami semua itu, saya lalu tersenyum. “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengikutsertakan aku untuk menjalankan suatu misi mulia.”

[+/-] Selengkapnya...